Selasa, 21 Mei 2013

Perkembangan Sistem Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia untuk menjamin
kelangsungan hidupnya agar lebih bermartabat. Oleh karena itu  negara
memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu
kepada setiap warganya tanpa terkecuali termasuk mereka yang memiliki
perbedaan dalam kemampuan (difabel/anak berkebutuhan khusus) seperti
yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 31 (1) yang berbunyi, “Tiap-tiap
warganegara berhak mendapatkan pendidikan”. Ditegaskan pula dalam
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 BAB IV pasal 5 ayat
2, yaitu “Warganegara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental,
intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.” Hal ini
menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus memperoleh kesempatan
yang sama dengan anak yang lainnya (anak normal) dalam pendidikan.
Sistem pendidikan di Indonesia telah membentuk sistem pendidikan
segregasi dimana penyelenggaraan dilaksanakan secara khusus dan terpisah.
Anak-anak yang memiliki perbedaan kemampuan (difabel) disediakan fasilitas
pendidikan khusus yang idsebut dengan Sekolah Luar Biasa (SLB). Secara
tidak disadari, sistem pendidikan SLB  telah membangun tembok
eksklusifisme bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Dalam masyarakat
tidak terjadi interaksi sosial yang baik antara masyarakat difabel dan
masyrakat difabel, sehingga terjadi kesenjangan diantara kedua kelompok
masyarakat tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
1.  Apa yang dimaksud dengan Anak Berkebutuhan Khusus?
2.  Bagaimana karakteristik anak berkebutuhan khusus?
3.  Bagaimanakah cara pengajaran yang  efektif  bagi anak berkebutuhan
khusus?
4.  Bagaimanakah perkembangan sistem pendidikan bagi anak berkebutuhan
khusus di Indonesia ?
1.3 Tujuan
1.  Memberikan pengertian tentang anak berkebutuhan khusus dan
karakteristik serta kebutuhannya.
2.  Menjelaskan pengajaran yang efektif bagi anak berkebutuhan khusus.
3.  Mengevaluasi sistem pendidikan anak berkebutuhan khusus di Indonesia.
1.4  Manfaat
Manfaat dari  penulisan makalah ini ialah  sebagai  gambaran bagi  guru
maupun calon guru ketika menemui siswa berkebutuhan khusus, guru mampu
menyesuaikan diri serta mencukupi segala hal yang dibutuhkan anak tersebut,
tanpa membedakan siswa  lainnya.  Guru juga mampu memberikan  Sehingga
segala kompetensi yang diharapkan dapat tercapai secara keseluruhan. Selain
itu, penulisan makalah ini juga dimaksudkan untuk memberikan saran sistem
pendidikan yang cocok bagi anak berkebutuhan khusus.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1   Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang
berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada
ketidakmampuan mental, emosi, atau fisik. Yang termasuk ABK antara lain :
tunanetra, tuna rungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar,
gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan.  Istilah
lain bagi anak berkebutuhan khusus diantaranya :
1.  Disability : berkurangnya kemampuan  atau hilangnya fungsi organ atau
bagian tubuh tertentu. Disebut juga “impairment”. Contoh : tunarungu,
tunagrahita, tunanetra, tunadaksa, tunagrahita.
2.  Handicap : masalah atau dampak dari kerusakan (disability atau
imparment) yang dialami oleh individu ketika berinteraksi dengan
lingkungan.
3.  At Risk : anak yang meskipun tidak teridentifikasikan memiliki kerusakan
namun berpeluang mengalami hambatan atau masalah tertentu. Contoh :
disgrafia, diskalkulia, disleksia, dll.
Sejalan dengan  perkembangan pengakuan terhadp ha azasi manusia,
termasuk anak-anak ini, maka digunakanlah istilah anak berkebutuhan
khusus. Penggunaan istilah anak berkebutuhan khusus membawa konsekuensi
cara pandang yang berbeda denngan istilah anak luar biasa yang pernah
digunakan dan mungkin masih digunakan. Jika pada istilah luar biasa lebih
menitikberatkan pada kondisi (fisik, mental, emosi-sosial) anak, maka pada
berkebutuhan khusus lebih pada kebutuhan anak untuk mencapai prestasi
sesuai dengan potensinya.
2.2 Pembelajaran Efektif  bagi Anak Berkebutuhan Khusus
Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik  dan kebutuhan
akan pembelajaran yang berbeda dibandingkan anak normal lainnya.
Kebanyakan anak berkebutuhan khusus mempunyai prestasi akademik yang
rendah, apabila tidak diberikan metode pengajaran yang sesuai dengan
kebutuannya. Sistem pendidikan  yang kurang sesuai  juga berpengaruh dalam
masalah tingkah laku murid, dan dapat menggagalkan proses pembelajaran.
Beberapa  kebutuhan  pembelajaran khusus  pada anak berkebutuhan khusus
diantaranya :
a.  Waktu pemahaman yang lebih lama dibandingkan dengan anak yang
normal,
b.  Kesulitan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi,
c.  Ketelatenan dan kesabaran guru untuk tidak terlalu cepat dalam
memberikan penjelasan,
d.  Diperbanyak latihan daripada hafalan dan pemahaman,
e.  Menuntut dipergunakannya media pembelajaran yang variatif oleh guru,
f.  Diperbanyak kegiatan remedial.
Pengetahuan tentang ciri-ciri kebutuhan khusus anak-anak berkebutuhan
khusus menentukan implikasinya terhadap hal-hal berikut :
a.  Bentuk dan muatan kurikulum untuk memaksimalkan potensi
pembelajaran anak-anak dan menjamin bahwa yang diajarkan adalah
relevan dengan kebutuhan anak-anak.
b.  Pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan dalam kemahiran yang
diperlukan harus ada  pada semua pihak  yang terlibat dalam pendidikan
unruk memastikan setiap aktivitas yang dijalankan efektif bagi
pemenuhan kebutuhan anak-anak.
c.  Kriteria lingkungan yang dibentuk dapat meminimalkan kesan
kekurangan  terhadap ketidakmampuan mereka dan memberi  suasana
lingkungan yang aaman, terjamin, dan mendorong perkembangan
mereka.
d.  Penggunaan  sumber daya bantuan untuk mendorong anak-anak memiliki
pemahaman terhadap pembelajaran mereka.
e.  Rangkaian kerja dengan orang tua, yayasan pendukung, dan organisasi
sukarela juga diperlukan untuk memastikan kebutuhan anak-anak
terpenuhi secara kesuluruhan.
2.3   Sistem Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia
Dewasa ini lembaga pendidikan tidak hanya disediakan bagi anak yang
memiliki kelengkapan fisik, namun  juga bagi anak berkebutuhan khusus.
Pada dasarnya pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus sam dengan
anak-anak pada umumnya, namun ada beberapa kebutuhan khusus yang
mereka butuhkan yang berbeda dari anak lainnya.
Sistem pendidikan bagi anak berkebutuhan  khusus di Indonesia telah
mengalami perkembangan, berikut ini macam-macam  sitem pendidikan bagi
anak berkebutuhan khusus:
1.  Sistem Pendidikan Segregasi
Sistem pendidikan dimana anak berkebutuhan khusus dipisahkan
dengan anak normal. Penyelenggaraan sistem pendidikan segregasi
dilaksanakan secara khusus dan terpisah dari penyelenggaran pendidikan
untuk anak normal.
a.  Keuntungan sistem pendidikan segregasi
  Rasa ketenangan pada anak,
  Komunikasi mudah dan lancar,
  Metode pembelajaran yang khusus sesuai dengan  kondisi dan
kemampuan anak,
  Guru dengan latar belakang pendidikan luar biasa,
  Sarana dan prasarana yang sesuai,
b.  Kelemahan sistem pendidikan segregasi
  Sosialisasi terbatas,
  Penyelenggaraan pendidikan yang relatif mahal,
  Egoistik, menumbuhkan kesenjangan kuakitas pendidikan,
  Menumbuhkan disintegrasi
2.  Sistem Pendidikan Integrasi
Sistem pendidikan luar biasa yang bertujuan memberikan pendidikan
yang memungkinan  anak luar biasa memperoleh kesempatan mengikuti
proses  pendidikan bersama dengan siswa normal agar  dapat
mengembangkan diri secara optimal.
a.  Keuntungkan sistem pendidikan integrasi
  Merasa diakui haknya dengan anak normal terutama dalam
memperoleh pendidikan,
  Dapat mengembangkan bakat dengan anak normal terutama dalam
memperoleh pendidikan,
  Lenih banyak mengenal kehidupan orang normal,
  Mempunyai kesempatan untuk melanjutkan penndidikan ke jenjang
yang lebih tinggi,
  Harga diri anak meningkat.
b.  Kelemahan sistem pendidikan integrasi
  Anak berkebutuhan khusus harus menyesuaikan diri dengan metode
pengajaran dan kurikulum yang ada,
  Membutuhkan waktu yang lebih untuk adaptasi.
3.  Pendidikan Inklusi (Pendidikan Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus)
Pendidikan inkllusif merupakan sebuah pendekatan yang berusaha
mentransformasikan sistem pendidikan dengan meniadakan  hambatan-hambatan yang dapat menghalangi setiap siswa untuk berpartisipasi penuh
dalam pendidikan.
Inklusif merupakan perubahan praktis yang memberi peluang anak
dengan latar belakang dan kemampuan yang berbeda bisa berhasil dalam
belajar. Perubahan ini tidak hanya menguntungkan anak yang sering
tersisihkan, seperti anak berkebutuhan khusus, tetapi semua anak dan
orangtuanya, semua guru dan administrator sekolah, dan setiap anggota
masyarakat.
Prinsip-prinsip dasar pendidikan inklusif, yang membedakan dengan
sistem entegratif apalagi segregatif adalah :
  Setiap anak, memiliki hak untuk menempuh pendidikan di sekolah
manapun dan sekolah wajib menerimanya,
  Sistem pendidikan harus fleksibel, memberikan kemungkinan pada
guru untuk melakukan penyesuaian, guna mengakomodasika
kebutuhan khusus setiap siswa,
  Sistem pendidikan dalam suatu negara harus dibuat satu sistem, dan
sistem pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus merupakan
bagian integral dari sistem pendidikan umum tersebut; bukan
terpisah atau khusus.
a.  Keuntungan sistem pendidikan inklusif
Keuntungan dari sistem pendidikan inklusif ialah anak
berkebutuhan khusus maupun anak biasa dapat  saling berinteraksi
secara wajar sesuai dengan  tuntutan kehidupan sehari-hari di
masyarakat, dan kebutuhan pendidikannya  dapat terpenuhi sesuai
potensinya masing-masing.
b.  Kelemahan sistem pendidikan inklusif
  Minimnya sarana penunjang sistem pendidikan inklusif,
  Terbatasnya pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh
guru sekolah inklusi,
  Sistem kurikulum pendidikan umum yang belum mengakomodasi
keberadaan anak berkebutuhan khusus.
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
3.1 Simpulan
Setiap anak  memiliki hak untuk memeproleh pendidikan, baik itu
bagi anak normal, maupun anak berkebutuhan khusus. Anak berkebutuhan
khusus memiliki kriteria dan kebutuhan tersendiri dari anak normal,
meskipun begitu hendaknya mereka tetap diberikan  materi  pembelajaran
yang  sama dengan anak normal lainnya yang disesuaikan dengan
keterbatasan mereka, hal ini dapat diwujjudkan dalam sistem pendidikan
inklusif.
Sistem pendidikan inklusif saat ini dianggap sebagai sistem
pendidikan yang paling efektif bagi anak berkebutuhan khusus, namun
minimnya sarana penunjang menunjukkan bahwa sistem pendidikan
inklusif belum dipersiapkan dengan baik.
3.2 Saran
Sistem pendidikan  inklusif yang saat ini dianggap paling efektif
hendaknya dipersiapkan dengan semaksimal mungkin agar sistem
pendidikan inklusif tidak hanya terkesan sebagai progam eksperimental
semata, sehingga anak berkebutuhan khusus di Indonesia dapat
memaksimalkan potensinya, dan mampu meraih mimpi-mimpinya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. “Tempat dan Sistem Pendidikan Anak Berkemampuan Mental Rendah”.  http://duniakhusus.blogspot.com/2011/04/tempat-dan-sistem-pendidikan-abmr-anak.html (online, diakses pada tanggal 20 mei 2013)
Murfi, Ali. 2013. “Anak Berkebutuhan Khusus”, http://www.slideshare.net/AliMurfi/makalah-psikologi-pendidikan-anak-berkebutuhan-khusus-abk (online, diakses tanggal 19 mei 2013)
Nursalim, Muhammad, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Surabaya : Unesa University Press
Sari, Eka Ratna. 2012. “Paradigma Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus”, http://setyoecca.blogspot.com/2013/01/paradigma-pendidikan-anak-berkebutuhan.html (online, diakses tanggal 18 mei 2013)
Tuslina, Tina. 2012. “Perkembangan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus”, http://edukasi.kompasiana.com/2012/05/20/perkembangan-pendidikan-anak-berkebutuhan-khusus-di-indonesia-463559.html (online, diakses tanggal 18 Mei 2013)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar